Maret 03, 2014

“ Tolong pulangkan anakku “

.

“ Tolong pulangkan anakku “

Cukuplah bagi beberapa rekan, sahabat, dan sesama perantau dari Palu ( Sulteng ) untuk memastikan jenazah seorang kawan harus terlihat oleh ibu yang bersedih di seberang pulau sana. Anak tunggal dari ibu yang sendiri, suami beliau/ ayah si mayit sudah lama pula meninggal.

                                                                  ……………………….

Malam itu jam 21:00 WITA, tiba – tiba kegaduhan terjadi di long house sebelah. Dan seorang perempuan setengah baya ( tetangga juga ) berlari dengan wajah pucat…” meninggal, meninggal “. Di iringi suaminya…

“ Eja, siapa Eja ? “

“ Bayu “, lirih dan geleng – geleng kepala

Innalillahi……Langsung berlari saya.

                                                                  ……………………….


Ia tinggal sendiri, bujang 28 tahun. Konon tidak mau ditemani rekan lain tinggal bersama karena  ingin mengajak ibunya datang, setelah bonus produksi tahunan keluar. Artinya mungkin akhir bulan Maret ini. Bonus Krani Panen divisi 04, Estate Perdana.

Perawakan kurus, selalu tersenyum. Pada anak saya senang memanggil dan mengajak bercanda.
Banyak teman, itu yang kami tahu. Sering berkumpul dengan gitar dan beberapa gelas kopi di halaman belakang long house.  Hingga larut.

Pagi itu masih terlihat kerja, kemudian oleh beberapa rekannya diketahui yang bersangkutan pulang.

“ Sakit betul kepala ini, pulang dulu aku “

Cerita selanjutnya, tetangga melihat ia siang hari dengan kegiatan sendiri. Cuci dan sapu teras tempat tinggalnya. Bukan sesuatu yang biasa. Sore tak terlihat oleh anak – anak sebaya. Agak aneh. Hasil pengintipan; motor di dalam rumah, lampu ruang depan, tengah, dan dapur menyala. Hanya kamar depan terlihat padam. Tapi rumah terkunci, tidak seperti sering kali yang terbuka. Sore hingga malam menjelang, penuh terdengar suara Hp yang tidak terangkat. Puncaknya adalah setelah Isya, hasil menggedor dan teriak memanggil tak membuahkan hasil, beberapa rekan yang membutuhkan laporan berinisiatif memasuki rumah dengan memanfaatkan kolong atap rumah sebelah.  Mereka risau, bahkan dugaan buruk mulai muncul. Dan benar….
Rekan yang berhasil memasuki kamar gelap itu berteriak ketika menghidupkan lampu. Beberapa rekan lain menyusul setelah pintu dibuka dari dalam…..

Yang dicari terbujur kaku di tempat tidur, pucat tanpa darah, posisi tubuh dan wajah yang tak bisa saya gambarkan lagi. Maaf, proses sakaratul maut tentu sangat menyakitkan, terlihat sekali oleh saya.

Sedikit merenung di moment itu, ia sendiri. Dan terbiarkan beberapa waktu tentu.  Tanpa pengiring ucap tauhid atau Qalam Allah, seperti Ayah saya yang begitu terasa tenang nafas terakhirnya dulu di sisi saya.

Dari dokter didapati kemungkinan jantung. Perut tampak kosong. Cerita berkembang; yang bersangkutan memang sering menahan makan, dengan selalu memanfaatkan kopi, atau minuman supplement penambah tenaga yang disinyalir memacu kerja jantung berlebih. Sementara di sisi lain, laporan bahwa ia tidak tidur beberapa malam lewat, berkawan di rumah sahabat yang sakit, tentu saja dengan kumpul – kumpul minum kopi, di samping aktivitas kerja membuat tubuh dianiaya.

Keramaian terjadi di rumah yang hanya berjarak 10 meter itu dari tempat tinggal saya. Dekat. Dan malam itu juga saya mengikuti rencana kepulangan Jenazah setelah kalimat ‘ pulangkan anakku ‘ itu.

Yang terjadi adalah, seorang rekan yang berjarak 6 jam perjalanan dari lokasi kami dipanggil untuk membawa jenazah. Ia masih terhitung tetangga kampung dan keluarga jauh dari Almarhum. Alhasil, lepas subuh jenazah baru keluar dari kamp. Pulang.  Menuju Desa Kahala melewati jalur Holling perusahaan. Melintasi Danau semayang via Perahu bermesin. Hingga Kotabangun, disambut ambulance menuju Samarinda. Transit di RS. Dirgahayu Samarinda untuk mengurus dokumen dan perapian jenazah. Kemudian meluncur lagi ke Sepinggan - Balikpapan untuk penerbangan, Sulawesi. Tidak mendapat informasi lebih apakah transit di Hasanudin Makasar atau langsung menuju Palu.

Dari rekan mendapat kabar, tiba hampir tengah malam. Jenazah langsung dikebumikan setelah Sang Ibu diberi waktu untuk melihat wajah anaknya. Mendekati dua malam menuju liang lahat, tentu saja lama. Tapi permohonan sang ibu tak bisa dikesampingkan, “ tolong pulangkan anakku “. Anak satu – satunya oleh beliau.

Dari kenyataan ini, beberapa kalimat menyeletuk. Yang terdengar menarik bagi saya ucap seorang perempuan baya. Dari Sulawesi juga….” Harus menabung kita. Siapa tahu kita meninggal, ongkos sudah ada buat pulang “.

Ucap ‘pulang’nya terasa aneh….
                                                                  ……………………….


Yaps, saya hanya ingin berbagi cerita. Dan saya kira baik juga untuk mengisahkan ini, paling tidak mengatakan phenomena kami yang di tanah rantau dan agak terpencil ini bahwa kadang untuk menuju liang lahat, bagi sebagian kami memerlukan waktu dan biaya.

Bukan, bukan untuk sebuah kemewahan, tapi murni perjalanan menuju ‘ tanah itu’.


.

1 komentar:

  1. hidup di tanah rantau memang butuh perjuangan,, terutama melawan rasa rindu kampung halaman :)

    BalasHapus